*Rahmat
Kurnia Lubis
Ibadah
shalat merupakan panglima yang sekaligus kewajiban bagi seorang muslim, hal ini
sudah jelas perintahnya di dalam al Quran, “Dan
dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku.”
(Q.S. al Baqarah: 43). Dalam Hadits Nabi Saw disebutkan “Shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat.”, (Shahih
Bukhari). Seruan shalat ini bukanlah menunjukkan satu amalan yang harus di
kerjakan tanpa membedakan status, apakah ia nabi, wali, berpangkat, kaya atau
bukan, namun setiap hamba yang sudah mengikrarkan diri atas Islam secara
otomatis melekat kewajiban ini. Dalam kondisi dan situasi apapun tidak ada
alasan bagi seorang muslim untuk meninggalkan shalat, kecuali hanya satu hal
yaitu kepada perempuan yang berhalangan seperti mensturasi dan nifas. Jika dalam
zakat, haji dan puasa ada keringanan untuk meninggalkan dan menggantikannya
jika tidak sanggup, maka shalat wajib dalam setiap kondisi bahkan dalam situasi
perang dan sakit sekalipun.
Beribadah
menghadap kiblat bukan berarti karena Wajah Allah SWT di Ka’bah tapi lebih dari
itu merupakan penyatuan kiblat kaum muslimin, namun ternyata masalah kiblat ini
merupakan sejarah yang paling tua di dunia. Bahkan jauh sebelum manusia
diciptakan di bumi, Allah swt telah mengutus para malaikat turun ke bumi dan
membangun rumah pertama tempat ibadah manusia. Ini sudah dituturukan dalam al Quran “Sesungguhnya rumah yang mula-mula
dibangun untuk manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekkah) yang diberkahi
dan menjadi petunjuk bagi semua manusia”. (QS. Ali Imran : 96). Sisi-sisi
lain kiblat umat muslim sendiri ternyata pernah menghadap ke Baitul Maqdis
Palestina. Perlu kita ketahui bahwa firman Allah SWT kembali ”Dan kepunyaan
Allahlah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap maka disitulah wajah
Allah. Sesungguhnya Allah Maha luas (rahmatNya) lagi Maha mengetahui”.
(QS.al-Baqarah: 115). Secara filosofis Allah yang tidak betempat ini, berada di
antara hambanya di mana pun ia dan menghadap mana pun ia berdoa, namun sebagai
muslim yang mempunyai syariah sebagai aturannya dan nabi sebagai contoh
teladannya maka ibadah sholat yang kita lakukan ini harus berdasarkan fondasi
dan mencontoh Rasulullah sebagai tokoh gerakan wahyu dalam dunia Islam.
Sebelum
Nabi Muhammad Saw mendapatkan perintah shalat melalui mi’raj maka rasulullah
Saw senantiasa hanya bertahannuts. Tahannuts berarti menyendiri menyepi kesuatu
tempat yang sunyi, atau menjauhkan diri dari keramaian untuk berkontemplasi.
Ahmad bin Faris dalam bukunya Maqayis al
Lughat mengartikan tahannuts dengan beribadah (ta’abbud). Dalam kamus Arab-Indonesia ditemukan arti tahannuts: 1)
beribadah dalam waktu beberapa malam, 2) menjauhkan diri dari berbuat dosa, dan
3) meninggalkan menyembah berhala. Pengertian tersebut mengacu dan didasarkan
pada sebuah hadits nabi yang diriwayatkan oleh Aisyah ra, “Nabi pergi ke gua
Hira’ setiap malam kemudian melakukan ibadah di dalam gua itu dalam jumlah yang
tidak terhitung,” (HR. Bukhari). Sementara itu menurut Nickholas Drake, tahannuts berarti upaya pencarian Tuhan
yang dilakukan oleh seorang hamba dengan cara menghindarkan diri dari dunia
ramai dan gangguan-gangguan yang ada dalam jiwa.
Seyyed
Hossein Nasr dalam buku ‘Muhammad Kekasih Allah’ mengungkapkan bahwa
pengalaman ruhani yang dialami Rasulullah Saw saat Mi’raj mencerminkan hakikat
spiritual dari shalat yang di jalankan umat Islam sehari-hari. Dalam artian
bahwa shalat adalah mi’rajnya orang-orang beriman. Sehingga jika kita tarik
benang merahnya, ada beberapa urutan dalam perjalanan Rasulullah SAW ini. Pertama, adanya derita sedih perjuangan
yang disikapi dengan kesabaran dan di hibur dengan isra dan mi’rajnya. Kedua, kesabaran yang berbuah balasan
dari Allah berupa hikmah dalam perjalananya. Dan ketiga, shalat menjadi hadiah dari Allah SWT kepada Muhammad Saw
dan kaum muslimin untuk bangkit dan meraih kemenangan. Ketiga hal diatas telah
terangkum dengan sangat indah dalam salah satu ayat Al-Quran, yang berbunyi “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.
Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang
khusyuk. (Yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya,
dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (Qs. al Baqarah 45-46).
Ibadah
shalat melatih untuk hidup sama rata dan kebersamaan. kita diajarkan
untuk berdiri, ruku' dan sujud, semuanya memberikan isyarat bahwa manusia
seluruhnya sama dihadapan Allah dan harus tunduk dan patuh kepada Allah. Sama
rata dalam berdiri, ruku' dan sujud. Ibadah
Shalat melatih diri untuk jauh dari perbuatan maksiat. dalam ayat
disebutkan "Sesungguhnya ibadah
shalat dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar". maksudnya
adalah bahwa orang yang shalat sejatinya memberikan pengaruh positif agar
terhindar dari perbuatan yang melanggar aturan Allah dan syariatNya. Ibadah Shalat melatih untuk hidup bersih.
Dalam ibadah shalat kita selalu diarahkan dan diwajibkan untuk membersihkan
diri dari najis dan kotoran. bersih hati dan jiwa, bersih badan, bersih pakaian
dan bersih lingkungan. Bersih hati dan jiwa dari syirik dan kemunafikan
sehingga ibadahnya dapat diterima dan tentunya dilakukan dengan penuh
keikhlasan.
Pertanyaannya
kemudian adalah banyak orang yang shalat tapi belum mampu membuat efek positif
dalam kehidupannya, baik dari pola hidup bersihnya, kemaksiatannya, dan
kemuliaannya, maka sebelum mempertanyakan hal seperti ini harusnya kita kembali
menanyakan hati kita, apakah sudah terpenuhi syarat dan rukun, ikhlas, khusyu
yang kita lakukan. Karena banyak di antara kita shalat hanya sebatas rutinitas
tanpa mengerti, memahami tujuan dan bagaimana menyerahkan diri secara totalitas
bersimpuh di hadapanya.
Penting
untuk diketahui bahwa ibadah itu pertama harus kita pahami syarat dan rukunnya,
kita mengerti, niatkan hanya karenaNya, tidak menunda-nunda waktu yang ada, melakukan
gerakan dengan tidak terburu-buru, gerakan tersebut juga merupakan relaksasi terhadap
anggota badan ini, dalam kondisi kepenatan dan kelelahan ternyata shalat juga
akan mampu memberikan kenikmatan tersendiri bagi orang yang beribadah ini. Berdiri
yang sempurna akan melancarkan aliran darah, getah bening ( limfe ) dan
kekuatan otot lengan. Posisi jantung di bawah otak memungkinkan darah mengalir
lancar ke seluruh tubuh. Saat mengangkat kedua tangan, otot bahu meregang
sehingga aliran darah kaya oksigen menjadi lancar. Ruku’ yang tidak tergesa-gesa menjaga
kesempurnaan posisi dan fungsi tulang belakang ( corpus vertebrae ) sebagai
penyangga tubuh dan pusat syaraf. Posisi jantung sejajar dengan otak, maka
aliran darah maksimal pada tubuh bagian tengah. Tangan yang bertumpu di lutut
berfungsi relaksasi. Sujud yang benara Aliran getah bening dipompa ke bagian
leher dan ketiak. Posisi jantung di atas otak menyebabkan darah kaya oksigen
bisa mengalir maksimal ke otak. Saat iftirosy, kita bertumpu pada pangkal paha
yang terhubung dengan syaraf nervus Ischiadius. Posisi ini menghindarkan nyeri
pada pangkal paha yang sering menyebabkan penderitanya tak mampu berjalan.
Duduk tawarruk sangat baik bagi pria sebab tumit menekan aliran kandung kemih (
urethra ), kelenjar kelamin pria ( prostata ) dan saluran vas deferens. Jika
dilakukan. dengan benar, postur irfi mencegah impotensi. Variasi posisi telapak
kaki pada iffirosy dan tawarruk menyebabkan seluruh otot tungkai turut meregang
dan kemudian relaks kembali. Gerak dan tekanan harmonis inilah yang menjaga.
Kelenturan dan kekuatan organ-organ gerak kita. gerakan memutar kekiri dan
kekanan pada saat salam merupakan relaksasi otot sekitar leher dan kepala
menyempurnakan aliran darah di kepala. Gerakan ini mencegah sakit kepala dan
menjaga kekencangan kulit wajah.
Pernahkah
kita berpikir tentang kualitas ibadah shalat ini, pernahkah kita bercermin apa
yang membuat para generasi sahabat mampu berdiri tegak, tenang, tidak merasa
sakit walau sebenarnya dalam kondisi sakit bahkan ketika mengeluarkan anak
panah dari kakinya Ali bin Abi Thalib. Itu adalah rahasia Allah SWT dan salah
satu energi positif dalam ibadah, Shalat merupakan meditasi tertinggi dalam Islam,
ia mampu menyehatkan badan, menenangkan jiwa, mendekatkan diri kepada Khalik dan
lebih optimis membangun kehidupan, dengan shalat kita menyerahkan diri kita,
menghilangkan keegoan kita, memohon ampunan, memuji, bersaksi kenabianNya, berharap
dan berdoa akan hidayah dan pertolonganNya selamat dunia akhirat. Puncak prestasi
tertinggi dalam Islam adalah ketika shalatnya sudah benar maka Rasulullah
bersabda “Yang pertama dihisab dari seorang hamba pada
hari Kiamat adalah shalat. Dan jika shalatnya baik, maka baiklah segala amalan
yang lain. Jika shalatnya rusak, maka binasalah segala amalan lainnya.” (HR Thabrani). Jika sang
rasul Muhammad Saw saja sudah menyampaikan sebuah apresiasi terhadap orang yang
serius beribadah dan khusyu shalat ini, maka mungkin juga di sana masih ada tabir
dan rahasia besar Allah SWT yang memang pantas kita gali atau bahkan otak pikiran kita belum sampai dan bisa jadi tidak sanggap melogikakan dan
sistematiskan akan balasan ibadah ini. Tafakkaru
ya ulil al bab.
*Penulis adalah Alumni Program Magister UIN
Sunan Kalijaga Yogyakarta