Laman

Tampilkan postingan dengan label Lembar Jumat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lembar Jumat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Februari 2014

Berkata Baik, Bijak dan Benar adalah Akhlak Islam




Oleh: Rahmat Kurnia Lubis*

Seiring dengan kedewasaan berpikir bahwa lisan dan logika merupakan timbangan untuk kematangan seseorang.  Maka tidak heran bahwa sesungguhnya peribahasa sering diungkapkan bagi setiap pemilik lidah untuk menjaga apa yang keluar dari lisannya. Sebab ketajaman lisan bisa lebih pedih daripada pedang. Ketajaman lisan mampu membuat damai, pun sebaliknya bisa membuat konflik. Dari bahasa yang keluar ini juga lah kemudian dapat di ukur tentang kewibawaan dan bisa tidaknya seseorang menjaga harga diri. Setiap sesuatu ada pintu sebagai pembuka untuk mengetahui seluk beluk dan isi yang akan dimasuki, maka pintu awal untuk mengetahui karakter seseorang adalah dari apa yang diucapkannya. 

Harus disadari, bahwa komunikasi yang baik itu tidak hanya cukup berkata benar, tapi ia merupakan tiga serangkai yang harus seiring sekata. Pertama, pembicaraan atau lisan yang baik yaitu berbicara dengan tutur kata yang sopan, santun dan tidak menyakitkan. Kita pernah mendengar seorang ustadz, dai, motivator, guru dan ibu yang berbicara dengan penuh kelembutan, berusaha menyampaikan bahasa dari hati. Begitu pun jika ada orang yang datang dengan amuk massa, menyampaikan sumpah serapah, bahas kotor. Dalam keadaan apapun hendaknya berucap dengan bahasa yang santun, terkontrol dan damai, maka dalam hal ini tidak akan ada alasan buat orang lain untuk kembali mengajak anda untuk berbicara lebih keras. Secara otomatis orang yang diajak berdialog akan menurunkan suaranya. Kejadian yang sering terjadi adalah ketika dalam kondisi amarah yang tinggi kemudian kita terbawa oleh suasana sehingga suara yang kita keluarkan tidak kalah lebih tinggi, akhirnya dalam situasi seperti ini kekerasan menjadi senjata dalam mengukuhkan pendirian tersebut. Pernahkah kita menyadari seiring masuknya suara dan pembahasaan yang tidak baik ini dalam diri manusia sering membuat orang salah sangka, merupakan langkah setan untuk mengobarkan dendam. Amarah ini lah kemudian yang menjadi gerbang untuk berbuat kejahatan dan kemaksiatan lainnya, dengan amarah manusia bisa saling fitnah, membunuh, dan perang.  Maka bertuturlah dengan bahasa yang baik.

Kedua, berkata dengan ungkapan yang bijak, tutur kata yang diasah dengan kemampuan yang membuat orang tenang, senang, dan damai justru menjadikan pribadi ini menjadi orang yang selalu ditunggu suaranya, karena dari dalam dirinya mampu memberikan motivasi, semangat bagi jiwa yang rapuh, bisa menempatkan setiap kata untuk tetap bermakna. Bagi penjual yang hebat atau direktur handal, penyampaian bahasa yang bijak akan menjadikan perusahaan maupun barang yang ditawarkannya akan laris di pasaran. Mungkin bisa jadi awal pertemuan dengan seorang direktur, marketing, ustadz dan motivator hanya sebatas pertemuan dan bahkan tidak menarik minat terhadap apa yang disampaikan, tapi kemampuan bahasa, kebijaksanaan kata yang diucapkan mampu membuat orang mengikuti apa saja yang diinginkan si pemilik bahasa. 

Suatu ketika Nabi Musa meminta kepada Allah SWT untuk menghadapi Fir’aun untuk dibimbing dan dikuatkan, dalam permintaan tersebut Nabi Musa berdoa,“Robbisrohli sodri wayassirli amri wahlul ‘uqdatammillisaani yafkahul kauli”. Ya Allah lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku, lancarkanlah lisanku dan hilangkan kekakuan dalam lidahku. Buatlah mereka mengerti akan ucapanku.

Ketiga, ungkapan bahasa yang baik dalam akhlak Islam adalah berkata benar. Banyak orang yang berbicara  mewakili berbagai macam profesi, namun jika ungkapan kata selalu bohong, tidak terbukti tentang apapun yang diucapkannya maka sebaik apapun yang dilakukannya, orang akan enggan dan menjauh. Perkataan yang mengandung unsur baik, jika dalam penyampaiannya tidak bijak, apalagi tidak ada nilai kebenaran di dalamnya menjadi sesuatu hal yang tidak berarti. Dengan tiga serangkai bahasa ini, maka ia tidak hanya sebagai ibadah, tapi ia mampu menciptakan perubahan, mengambil keputusan, dan menilai permasalahan dengan cara yang dapat diterima oleh semua lapisan. Allah SWT telah menyampaikan cara berbuat untuk sesuatu hal dengan sebaik mungkin, yaitu dengan mencakup tiga fondasi utama, tersebut di atas. Dalam Surat An Nahl ayat 125.

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Kata al hikmah menurut kitab Al Qamus Al Muhith, bermakna adil, lembut, dan bagusnya pemikiran. Adapun dari pengertian syara bahwa al hikmah memiliki banyak makna, di antaranya adalah ketepatan ucapan dan perbuatan, sebagaimana ditulis dalam Tafsir Ath Thabari dan Tafsir Ar Razy. Dalam kitab Al Bahrul Muhith, hikmah dimaknai sebagai meletakkan segala sesuatu pada proporsinya. 

Al Mauizhah al hasanah adalah pelajaran dan peringatan yang baik. Al Khalil berkata, al mauizhah adalah memberi peringatan dengan kebajikan yang membuat hati senang. Al Hikmah dan mauizhah hasanah disebut dalam kitab Adab Al Bahts wal Munazharah sebagai al burhan (bukti, dalil) dan al khithab (pidato). Allah SWT menghubungkan kata al mauizhah dan al hasanah, Dalam ayat ini menunjukkan bahwa kehidupan harus dijalankan dengan ungkapan kata yang tidak saja benar, tapi harus adil, bijak, dan baik sehingga setiap orang dalam persengketaan atau permasalahan apapun bisa dibicarakan bersama.

Setiap orang cenderung untuk menghakimi dan menilai apa yang dilihatnya. Jika dalam hal penyampaian tidak mengontrol dan membiasakan dengan ungkapan yang baik, bijak dan benar tentunya akan menjadi masalah bahkan bisa menjadi sumber konflik, walau sebenarnya kita ingin berbuat baik tapi kalau tidak dilakukan dengan cara, pembahasaan, kebijaksanaan tutur kata akan membuat semakin rusuh suasana.

*Rahmat Kurnia Lubis, Alumnus Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Jumat, 07 Februari 2014

Pintu Taubat, Jalan untuk Berubah Damai dengan Allah SWT




Oleh: Rahmat Kurnia Lubis*

Hidup manusia seperti  sebuah buku, sampul depan adalah tanggal lahir, sampul belakang adalah tanggal pulang. Setiap lembarnya adalah hidup kita, ada buku yang tebal dan ada yang tipis, ironisnya seburuk apapun halaman sebelumnya penuh dengan noda dan coretan yang tidak di mengerti, selalu tersedia halaman berikutnya yang bersih, baru tiada cacat buat menulis kenangan indah, mengukir tulisan yang bagus. Ini sama halnya dengan hidup kita, seburuk apapun masa lalu, Allah SWT selalu menyediakan hari yang baru buat kita, untuk melakukan sesuatu  yang benar, memperbaiki kesalahan, melanjutkan alur cerita yang sudah ditetapkan-Nya.

Rata-rata umur manusia saat ini adalah 60-70 tahun, jika kita mencoba untuk berpikir matematis maka pertanyaannya kemudian adalah sudah cukupkah bekal kita untuk menjumpai sang khalik ketika sang maut datang menjemput. Biasanya usia muda selalu dihabiskan dengan kesenangan duniawi, menghamburkan harta, mencoba untuk mengambil peran dalam hal berbagai maksiat yang di larang agama, manusia melupakan haknya Allah SWT bahwa maut sebenarnya bisa mengintai tanpa memandang usia dan kesempatan di hari esok. Bahkan bahasa pembenaran atas nafsu manusia diciptakan dengan mengatakan masa muda adalah masa bebas untuk suatu hal apapun, termasuk maksiat di dalamnya, sebelum masa tua, atau sebelum menikah maka puaskan lah, itulah kadang bahasa yang muncul dari sebagian generasi muda. Sikap ini tentunya tidak dapat dibenarkan untuk melakukan apa saja tanpa ada batas dan aturan yang jelas. Allah SWT memberikan penjelasan di dalam kitab-Nya yang mulia: 

“Idza ja'a ajaluhum la yasta'khiruuna sa'atan wala yastqdimuun” artinya ajal telah datang, maka tidak dapat meminta penundaan atau mempercepat sesaat pun.  [Q.S. 7 Al A'raf ayat 34]
 
Kembali kepada masalah kalkulasi tentang sebuah usia, dalam kehidupan ini, manusia mempunyai kegiatan dimulai dari tidur, bangun tidur, dan kegiatan-kegiatan lainnya yang tidak begitu penting dan menghabiskan waktu. Kita rincikan jika kehidupan manusia ini 65 tahun, dikurangi usia akil balig 15 tahun, maka total usia adalah 50 tahun. Untuk 50 tahun itu marilah kita lihat untuk apa waktu tersebut dipergunakan. Pertama, untuk tidur, umumnya manusia tidur ± 8 jam per hari. Dalam 50 tahun waktu yang habis dipakai tidur 18,250 hari x 8 jam= 146,000 jam= 16 tahun 7 bulan dan jika dibulatkan jadi 17 tahun. Kedua, waktu beraktivitas/kegiatan siang hari umumnya manusia , sebut saja ± 12 jam, selain bekerja 8 jam masih ada kegiatan di siang hari lainnya. Dalam 50 tahun waktu yang habis dipakai manusia untuk aktivitas tersebut: 18,250 hari x 12 jam= 219,000 jam = 25 tahun. Ketiga, waktu rehat, santai, leha-leha ± 4 jam, Dalam 50 tahun waktu yang dipakai untuk rehat 18,250 hari x 4 jam= 73,000 jam = 8 tahun. Maka kalkulasinya adalah waktu  tidur 17 tahun + kegiatan siang hari 25 tahun + rehat 8 tahun = 50 tahun. Maka bagaimana dengan ibadahnya, banyak yang melalaikan hal ini, jika satu kali shalat rata-rata 10 menit 5x shalat = 50 menit digenapkan 1 jam.  Ini pun kalau shalatnya 5 waktu. Kalau yang cuma Maghrib, bagaimana? Dalam waktu 50 tahun waktu yang dipakai manusia untuk shalat = 18,250 hari x 1 jam = 18,250 jam atau sama halnya hanya 2 tahun saja.

Artinya kehidupan manusia lebih banyak terfokus kepada hal yang sifatnya keduniawian, bagaimana jika perbuatan yang dilakukan setiap harinya tidak terlepas dari kemaksiatan, seperti menipu, senang berjudi, memfitnah orang, dan membuat kerusakan. Hal ini tentunya sangat menambah beban berat menjumpai Allah Sang Maha Rahman. Melihat akan arti pentingnya sebuah waktu hingga Allah SWT pun bersumpah karenanya, semua orang mempunyai waktu yang sama setiap hari, yaitu 24 jam, tapi menghasilkan karya dan kualitas yang berbeda, ini artinya bahwa berbahagia dan belajarlah demi waktu untuk masa depan dunia dan akhirat. Mengkalkulasikan usia bukan berarti belajar pesimis dalam hidup tapi agar kita bisa mengatur langkah tidak sembarangan dalam berbuat dan berucap, karena pada dasarnya manusia telah banyak menyia-nyiakan waktu tanpa disadarinya.

Berbicara masalah waktu dan usia tersebut di atas adalah menggambarkan kehidupan yang cukup singkat, namun Allah SWT tetap memberikan pintu yang selebar-lebarnya bagi hamba yang datang, menyerahkan diri, bertaubat, minta ampunannya, kemudian dari pada itu, kehidupan dunia ternyata juga bisa menjadi ibadah terhadap Allah SWT. Jika pun kita tidak selalu duduk bersimpuh setiap waktu dan harinya di masjid, namun dengan kita bekerja, menafkahi keluarga, belajar dengan giat, menemukan solusi atas berbagai macam masalah keumatan dan kebangsaan, begitupun memimpin dengan cara yang adil, maka itu semua merupakan jihad sosial yang Allah SWT banggakan. Mengutip pernyataan Qurais Shihab dalam bukunya Wawasan Al-Quran “Walaupun Al-Quran bukan kitab ilmiah dalam pengertian umum, namun  kitab  suci  ini  banyak   sekali   berbicara   tentang masyarakat.  Ini disebabkan karena fungsi utama kitab suci ini adalah mendorong lahirnya  perubahan-perubahan  positif  dalam masyarakat,  atau  dalam  istilah  Al-Quran litukhrija an-nas minazh-zhulumati ilan nur  (mengeluarkan  manusia  dari  gelap gulita  menuju  cahaya  terang  benderang). 

"Wa ta'awanu 'alal birri wat taqwa, wa la ta'awaunu alal itsmi wal 'udwan." (Saling menolonglah kalian dalam hal kebaikan dan janganlah saling menolong dalam hal kejahatan). [Q.S. Al Maidah.2]. 

Ada seorang lelaki hendak menjenguk saudaranya yang berdomisili di kampung lain. Maka Allah memerintahkan seorang malaikat untuk mencegatnya di tengah jalan. Tatkala lelaki itu melintasi malaikat tersebut, malaikat bertanya, "Kemanakah engkau hendak pergi?" Ia menjawab, "Aku hendak menjenguk saudaraku di kampung ini." Kembali malaikat bertanya, "Apakah engkau memiliki sesuatu kepentingan yang hendak engkau selesaikan darinya?" Kembali ia menjawab, "Tidak, hanya saja aku mencintainya karena Allâh Subhanahu wa Ta’ala." Mendengar jawaban itu, malaikat itupun berkata, "Sesungguhnya aku adalah utusan Allah untuk mengabarkan kepadamu bahwa Allah telah mencintaimu, sebagaimana engkau telah mencintai saudaramu karena-Nya”. [HR. Muslim].

Sebagai makhluk ciptaan-Nya, diperintahkan untuk beribadah, ibadah dalam artian khusus adalah menghambakan diri, shalat dan menjalankan rukun Islam dan meyakini rukun imannya, namun di sisi yang lain sebagai umat yang baik dengan mencontoh pola kehidupan Rasulullah, maka bisa ditarik kesimpulan kehidupan dunia adalah jalan menuju kehidupan layak di akhirat yaitu dengan saling menghormati, menjaga perasaan, silaturrahim, tolong menolong, memberi manfaat, membangun pemerintahan yang lebih baik, menjaga persatuan dan kesatuan. Ini adalah amalan dunia yang juga dicintai Allah kemudian di surga-Nya. Karena iman tanpa aktifitas yang baik terhadap manusia dan lingkungan seperti binatang dan alam ini, hanya menjadikan diri pribadi yang egois. Keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat merupakan kunci keberhasilan seorang manusia dalam mengemban misi khalifatullah.

*Rahmat Kurnia Lubis adalah alumnus Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Jumat, 24 Januari 2014

Menjadi Pribadi Yang Sukses Dengan BerIslam




Oleh:  Rahmat Kurnia Lubis*
 


Menurut Robert N. Bellah, masyarakat muslim klasik itu “modern” (terbuka, demokratis, dan partisipatif ), dan bahwa keadaan itu berubah total setelah tampil nya dinasti Bani Umayyah. Oleh karena itu, kesenjangan yang ada sekarang antara ide dan realitas dalam masyarakat-masyarakat Islam harus ditelusuri sebagai kelanjutan apa yang dilihat oleh Bellah sebagai “kegagalan” dimasa-masa awal itu sendiri. Secara jujur kita harus mengakui bahwa proses perjalanan nya telah terkontaminasi oleh kepentingan, keyakinan telah masuk kepada ranah politik maka lahirlah teologi, perbedaan persepsi dan ideologi telah membuat mereka menjadi generasi yang berdarah-darah akibat perebutan sebuah dinasti, belum lagi kebijakan yang muncul dari sang khalifah penguasa adalah karena arogansi dan kesenangan individu semata, inilah dia realitas pahit yang ada, tentunya  disamping itu ada banyak hal juga yang menjadi memoar indah dalam sejarah pengembangan Islam hingga kelak dia bisa masuk kebelahan penjuru mana di beberapa benua dunia. Oleh hal itu keyakinan dan cara kita berIslam itu bisa jadi kemudian adalah atas sebuah doktrin politik yang mengakar kuat di zaman umawiah maupun abbasiah namun tetap kita seolah merasa bahwa prinsip itulah yang paling benar adanya, kita hampir tidak bisa membedakan antara Islam dan pemikiran Islam, agama dan pemikiran keagamaan, hingga sesuatu hal yang harusnya bersifat elastis dalam sebuah pewacanaan dan pengaktulisasian sebuah doktrin akhirnya menjadi penyandraan tersendiri terhadap akal dan waktu, karena jelas masa kini telah berbeda dengan masa lalu yang sudah ditinggal pergi oleh zamannya. Marilah kita simak kutipan dibawah ini melalu Encylopaedia Britannica “Islam”:

“sejak dari asal mulanya Islam, melalui ajaran prinsip-prinsip moral dan berlakunya hukum dalam kenyataan pembaruan masyarakat merupakan bagian dari inti ajaran Islam. Sungguh, Islam dapat dilukiskan sebagai gerakan pembaruan yang didukung oleh ide keagamaan dan etis tertentu yang sangat kuat berkenaan dengan Tuhan, manusia, dan alam raya. Di Madinah, begitu keadaan mengizinkan, Nabi membentuk komunitas negara dengan sebuah konstitusi dan sesuai dengan tuntutan keadaan, perundang-undangan yang diperlukan pun dibuat untuk komunitas negara itu, baik dalam bentuk ordonasi dari al Quran maupun perintah-perintah Nabi, yang biasanya melalui musyawarah dengan satu komunitas. Faktor yang paling fundamental dan dinamis dari etika sosial yang diberikan oleh Islam ialah egalitarianisme semua anggota, tidak peduli warna kulit, ras dan status sosial atau ekonomi nya, adalah partisipan yang sama dalam komunitas”.

Dari pernyataan diatas maka seharusnya Islam sebagai agama bisa melahirkan sebuah kesejahteraan, kedamaian dan kesuksesan dalam berdikari, sebenarnya ada banyak hal kajian Qurani yang telah kita tinggalkan, hingga ia hanya sebatas wacana yang tidak pernah membumi. Pernahkah kita menyadari bahwa banyak penelitian hingga akhirnya yang serius untuk menangkap pesan Qurani itu adalah orang yang nyata-nyata kufur terhadap Tuhan Allah Azza Wajalla. Lihatlah al Quran bagaimana mengingatkan manusia terkait dengan waktu, perencanaan, profesionalitas, dan membaca, secara filosofis bahwa Tuhan mengajarkan kita banyak hal yang harus kita tangkap pesannya. Allah menginginkan kita menjadi generasi yang sukses bukan menjadi generasi yang gagal karena itulah wahyu diturunkan dalam tataran normatif yang harus dikaji secara mendalam agar lebih relevan dan bersaing dengan zaman. Rasulullah mengajarkan kepada sahabat-sahabat nya sebuah komitmen dan pemikiran yang mendalam tentang Islam, mereka hanya diajari di universitas-universitas kenabian yang nota benenya pembelajaran itu dilaksanakan hanya dari masjid ke masjid, namun pada akhirnya mereka mampu menjadi generasi yang unggul, hampir tidak ada para sahabat nabi yang tidak mempunyai kecakapan yang terampil sesuai dengan kapasitas dan potensi yang di miliki nya, semuanya terasah dan akhirnya bermanfaat bagi manusia lainnya. Ada sahabat yang memang dikenal sebagai seorang saudagar seperti Abu Bakar, sebagai ilmuwan Ali Bin Abu Thalib, ada yang terkenal karena nalar kemujtahidannya adalah Abdurrahaman bin Auf, karena kefasihan lidahnya sebagai diplomat, dan mereka yang ahli strategi militer semuanya terkumpul dalam rumpun sahabat nabi. Mereka semunya terbentuk atas dasar potensi yang mereka miliki dan kemudian sang Rasul membebaskan dengan pilihan-pilihan hidup mereka dengan inspiras wahyu dan digelorakan semangat nya oleh kanjeng Nabi.

Ada tiga rahasia sukses yang menjadi concern utama pemikiran Islam yang telah diajarkan oleh baginda nabi, pertama adalah quwatul aqidah, kedua quwatul fikriyah, dan ketiga adalah quwatul ukhuwah, ketika tiga hal yang paling fundamen ini menyatu dalam kepribadian seseorang maka ia akan menjadi manusia yang paling bermanfaat, melahirkan jiwa-jiwa yang berilmu pengetahuan, yang mencintai Tuhan dan agama nya serta tidak akan melepaskan diri dari jiwa sosial nya. Dengan akidah yang benar kita akan mengetahui hak dan kewajiban hidup di bumi ini, dan akan kemana akhir dari pada bumi persinggahan ini karena tidak akan ada yang abadi kecuali Rabb semesta, melalaui penalaran yang logis dan sistematis akhirnya kita akan mampu menguasai tekhnologi, mengikut arus modernisasi, globalisasi tanpa tergilas oleh zaman yang terus berputar dan berubah ini, makanya sifat keterbukaan diri itu harus dibangun untuk menguasai cakrawala pemikiran dan formula yang tepat dalam hal keilmuan, tidak heran kiranya jikalau sang baginda nabi justru menganjurkan umat Islam di masa nya untuk menuntut ilmu sampai ke negeri Cina, itu artinya sebuah pertanda bahwa kita harus dengan sigap terhadap perkembangan zaman dan keilmuan tanpa membeda-bedakan satu sama lain arti sebuah kebenaran ilmu, seperti kata Muhammad Iqbal bahwa ketika kita mengambil kebenaran bukan berarti harus mengganti baju dan merubah warna kulit kita, mengambil sesuatu hal yang bermanfaat dari mereka bukan kemudian juga harus menanggalkan sesuatu yang paling mulia dari kita, inti nya membuka diri terhadap segala perubahan adalah hal paling mendasar untuk sebuah peradaban dan kemajuan sebuah individu. Sementara itu silaturrahim yang terbangun dengan baik akan melahirkan suasan psikologis yang damai, nyaman dan melahirkan kesalehan sosial yang satu sama lain mempunyai ketergantungan untuk sebuah ketergantungan yang sama yaitu membumikan nilai-nilai universal sebuah kemanusiaan di alam semesta ini.

Las but not Least,  dalam kehidupan nabi telah terangkai empat sifat pokok yang menjadi sebuah acuan penting bagi kehidupan modern ini, yaitu sifat sidik, (kejujuran), tabligh (transfaransi), amanah (dipercaya), fathanah (cerdas). Hal langka inilah yang seharusnya terus kita kembangkan jika ingin lebih berperadaban, karena dengan sifat utama dari baginda nabi tersebut, apa pun profesi kita, siapa pun yang kita hadapi, dan di mana pun kita berada, tidak ada masalah, dan yang pasti baik lawan maupun kawan akan menempatkan posisi kita sebagai orang yang di percayai walai ia musuh sekali pun, bak ibarat nabi Muhammad saw, tidak ada satu pun dari kaum kafir yang menafikan kejujuran baginda nabi ini. Kita membutuhkan jiwa dan pribadai yang baik dalam membangun keberagamaan yang sehat dan kebangsaan yang bermartabat.


 * Penulis Adalah Alumni Program Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.